Rabu, 24 Februari 2010

pengenceran larutan

PENDAHULUAN

Latar belakang
Larutan baku atau larutan standar y.i larutan yang konsentrasinya sudah diketaui dengan pasti. Untuk mengetahui konsentrasinya larutan tersebut harus dibakukan atau distandardisasikan makanya disebut larutan baku/standar. Cara yang paling umum untuk standarisasi adalah dengan titrasi.
Pengenceran adalah penambahan pelarut ke dalam suatu larutan jadi pada prinsipnya jumlah mol zat sebelum dan sesudah diencerkan tetap, maka rumusnyaM1V1=M2V2,V2=V1+pelarut. Sifat asam-basa dapat diketahui dengan menggunakan indikator msal kertas lakmus merah dan biru. Prinsipnya ARURAH = asam mengubah lakmus biru jadi merah, SAMERU = basa mengubah lakmus merah jadi biru. Asam/basa bisa dikenali juga dengan cara dicicipi atau dirasakan dengan tangan tapi ini terlalu berisiko.
Tujuan
Untuk mempelajari cara pengenceran beberapa larutan dengan berbagai konsentrasi.












TINJAUAN PUSTAKA

Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Khopkar, 1990).
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada suatu senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquadest dalam jumlah tertentu. Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan (Brady,1999).
Dalam pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi yang tidak kita inginkan. Untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya perlu dilakukan standarisasi.standarisasi sering dilakukan dengan titrasi. Zat-zat yang didalam jumlah yang relative besar disebut pelarut (Baroroh, 2004).
Dalam kimia, pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven (Gunawan, 2004.).

METODE PERCOBAAN

Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
Batang pengaduk, pipet tetes, erlenmenyer 100 ml, gelas kimia 100 ml, gelas ukur dan labu ukur.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
NaCL 25 ppm dan 100 ppm, NaOH 0,1 N, HCL 37 %, BaCL2 5%, AgNO3 0,1 N, HCL 0,1 N, HCL 6 M dan BaCL2 0,05 M.
Cara kerja
Di buat perhitungan masing-masing bahan yang akan diencerkan.
Di buat 100 ml larutan NaOH 0,1 N dengan cara :
Ditimbang sejumalah NaOH sesuai hasil perhitungan diatas didalam gelas kimia 100 ml.
Ditambahkan aquadest sebanyak 70 ml, lalu dipindahkan larutan kedalam labu ukur dan ditambahkan air sampai tanda batas.
Diulang untuk bahan-bahan yang lain.
Dibuat larutan standar NaCL 1000 ppm dengan cara :
Ditimbang sejumalah NaCL sesuai hasil perhitungan diatas didalam gelas kimia 1000 ml.
Ditambahkan air sampai tanda batas.
Dibuat 100 ml NaCL dengan konsentrasi 25 dan 100 ppm dari larutan standar 1000 ppm.
Diambil sejumlah larutan NaCL dari larutan standar 1000 ppm dengan menggunkan gelas ukur.
Dimasukan kedalam labu ukur.
Ditambahkan air kedalam labu ukur hingga batas ukur.


DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Data Hasil Pengamatan
25 ppm > 100 ppm
Larutan standar yang telah diketahui.
NaCL 1000 ppm?
Ppm = (Ar Na )/(BM NaCL) x 1000 ppm
= 23/58,5 x 1000 ppm
=
= 0,39 g/l
=0,4 g/l
NaOH 0,1 = gr/mr x 1000/V
0,1N = gr/40 x 1000/100
0,1 = gr/40 x 10
0,1 x 40 = 10 gr.
4 = 10 gr.
= 0,4 gr.
HCL 37 % = (10 x % x ρ)/Mr
= (10 x 37 x 1,19)/36,5
= 12,08.
M1 x V1 = M2 x V2
12,08 x V1 = 100 x 0,1
= 10/12,08
V1 = 0,82.


M1 x V1 = M2 x V2
12,08 x V1 = 100 x 6
= 600/12,08
= 49,6
AgNO3 0,1 N
M = gr/mr x 1000/V
0,1N = gr/169,9 x 1000/100
0,1N = gr/40 x 10
0,1N = 10 gr.
0,1 x 169,9 = 10 gr.
= 1,699 gr.

BaCL2 0,05 M.
M = gr/mr x 1000/V
0,05 = gr/207,3 x 1000/100
0,05 = gr/207,3 x 10
0,05 x 207,3 = 10 gr.
= 1,036 gr.
BaCL2 5%
5% = (10 x % x ρ)/Mr
= (10 x 5 x 1,19)/207,3
= 59,5/207,3
= 0,28.



Pembahasan
Prinsip-prinsip pengenceran antara lain : pengenceran dilakukan dengan memakai labu ukur, dihitung jumlah zat terlarut yang akan diencerkan, kemudian dimasukkan kedalam labu ukur zat terlarut yang akan diencerkan diatas dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas yang terdapat pada labu ukur/gelas kimia. Pada prinsip nya semua pengenceran dilakukan dengan memakai labu ukur karena dilabu ukur sudah terdapat tanda batas yang mengandung arti sebatas mana aquadest harus ditambahkan. Sebelum pengenceran dilakukan kadar solute yang akan diencerkan harus dihitung terlebih dahulu.
Pengenceran bahan padat, lazim nya dilakukan pada isolasi mikroba pada mikrobiologi yang menggunkan PDA sebagai bahan biakan mikroba. Intinya zat padat yang akan diencerkan diambil terlebih dahulu kemudian dicampur/ ditambahkan aquadest sampai tanda batas dilabu ukur. Sedangkan pengenceran zat cair, lazimnya dilakukan pada praktikum kimia, solute berupa cairan yang akan diencerkan terlebih dahulu harus dihitung, kemudian ditambahkan ditambahkan aquadest sampai tanda batas dilabu ukur. Perbedaan antar keduannya terlihat jelas pada solute yang digunakan.
Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Intinya pengenceran adalah pelarut lebih banyak dibandingkan zat terlarut. Sedangkan Pemekatan adalah suatu proses untuk menaikkan suatu kadar zat tertentu yang ingin dipekatkan. Contoh paling gampang ada pada industri sirup, ekstrak buah (encer) yang terbentuk harus dipekatkan terlebih dulu untuk mencapai skala ekonomis tertentu sebelum layak dijual. Proses ini umumnya memakai medium panas untuk mengurangi kadar air yang ada sehingga kandungan ekstrak buah yang ada akan meningkat. Intinya pemekatan solute lebih sedikit terdapat dibandingkan solvent.


Normalitas menyatakan jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan. Untuk asam, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion H+.
Untuk basa, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion OH-.Antara Normalitas dan Molaritas terdapat hubungan Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Molaritas suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan. Misalnya 1.0 liter larutan mengandung 0.5 mol senyawa X, maka larutan ini disebut larutan 0.5 molar (0.5 M). Umumnya konsentrasi larutan berair encer dinyatakan dalam satuan molar. Konsentarsi suatu larutan yang menunjukkan ke bobot volume zat terlarut yang berada dalam pelarut ataupun larutan yang banyaknya ditentukan. Part per million (ppm) adalah salah satu satuan konsentrasi yang menyatakan perbandingan bagain dalam satu juta bagian yang lain. Satuan ini biasanya banyak dipakai dalam kimia analisa untuk menytakan satuan konsentrasi senyawa misal banyaknya polutan dalam air sungai atau banyaknya kandungan zat dalam air minum. Larutan merupakan campuran dari dua zat atau lebih. Larutan dapat terjadi karena komponen larutan terdispersi menjadi atom atau molekul-molekul atau lain-lain yang bercampur baur. Larutan dapat berupa padat , cair atau gas. Namun lazimnya yang disebut larutan adalah zat cair. Larutan terdiri dari dua komonen yaitu pelarut dan zat terlarut.
Contoh dari solvent antara lain : air, alcohol, benzene, dan kloroform. Sedangkan solute sesuatau yang berbentuk gas, zat padatan atau pun cairan, sebagai contoh garam, gula, lemak dan sirup. Letak perbedaan keduanya adalah pada pemakaian, solvent digunakan sebagai pelarut untuk melarutkan solute, sedangkan solute digunakan sebagai bahan utama dalam pengenceran.
Teknik atau cara mengubah molaritas ke normalitas adalah dengan cara mengkalikan dengan jumlah hydrogen yang dimiliki dari senywa tersebut dengan jumlah molar yang sudah diketahui, missal H2SO4 0,1 M menjadi 0,2 N.




KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh pada praktikum ini antara lain:
Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar. Intinya pengenceran adalah pelarut lebih banyak dibandingkan zat terlarut.
Pemekatan adalah suatu proses untuk menaikkan suatu kadar zat tertentu yang ingin dipekatkan Intinya pemekatan solute lebih sedikit terdapat dibandingkan solvent.
Pengenceran bahan padat, lazim nya dilakukan pada isolasi mikroba pada mikrobiologi yang menggunkan PDA sebagai bahan biakan mikroba. Intinya zat padat yang akan diencerkan diambil terlebih dahulu kemudian dicampur/ ditambahkan aquadest sampai tanda batas dilabu ukur.
Pengenceran zat cair, lazimnya dilakukan pada praktikum kimia, solute berupa cairan yang akan diencerkan terlebih dahulu harus dihitung, kemudian ditambahkan ditambahkan aquadest sampai tanda batas dilabu ukur. Perbedaan antar keduannya terlihat jelas pada solute yang digunakan.
Contoh dari solvent antara lain : air, alcohol, benzene, dan kloroform. Sedangkan solute sesuatau yang berbentuk gas, zat padatan atau pun cairan, sebagai contoh garam, gula, lemak dan sirup.
Letak perbedaan antara pelarut dan zat terlarut adalah pada pemakaian, solvent digunakan sebagai pelarut untuk melarutkan solute, sedangkan solute digunakan sebagai bahan utama dalam pengenceran.





DAFTAR PUSTAKA
Baroroh, Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika, Surabaya.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar